Menjelang pemilu tahun ini para elite politik dan parpol semakin gencar saja melakukan kampanye, semua demi kekuasaan, semua pada haus. Entah mengapa mereka bisa menjadi seperti itu. Semua dihitung suara. Banyak warna dan gambar2 para calon kita bertebaran dimana2, kebanyakan dari kita tidak mengenal mereka. Entah kenapa, apakah kita yang kurang aware, atau calon itu memang selama ini tidak pernah menampakkan batang hidungnya untuk mengabdi kepada rakyat, membangun masyarakat. Hari ini, poster mereka berjejalan di pinggir2 jalan, meminta kepada rakyat untuk memilih mereka? Hmm, ibarat pengamen yang makin banyak saja di ibukota ini. Serasa budaya meminta dan ingin dikasihi itu semakin tinggi. Entah kemana larinya rasa idealisme yang bisa membanggakan diri kita dengan seberapa keadaan kita.
Pemilu, pesta rakyat karena banyak kucuran dana dari partai2 politik, banyak suap, banyak uang digelontorkan ke berbagai pundi2 usaha yang berkesinambungan dengan proses pemilu itu sendiri. Semua kader partai berteriak “Pilihlah saya/kami..” Rakyat ada yang bingung, ada yang kagum, ada yang biasa2 saja, ada yang mehiraukan dan bahkan banyak yang mencaci maki. Entah itu mencaci maki lawan partai, atau mencaci maki karena memang mereka tidak layak menjadi calon rakyat. Pemilu dan partai, telah merubah bangsa dengan budaya alaminya, dengan batik dan songketnya menjadi bendera2 partai, baju seragam yang tak nampai nilai seninya. Mereka menjadi satu, tetapi tidak bernuansa budaya kita.
Rakyat sekarang ini sudah bosan dengan ulah partai politik, bagi rakyat partai politik hanya untuk pencarian akan kekuasaan dan uang saja. Tidak benar2 memperjuangkan rakyat. Lihat saja masih banyak rakyat di pelosok negeri ini yang jauh dari akses kehidupan yang layak. Lalu, apa yang mereka perjuangkan selama negara ini merdeka? Entah ada hubungannya atau tidak, beberapa waktu lalu MUI sempat mengeluarkan fatwa haram bagi orang yang golput, alamak!! emangnya yang memberi dosa adalah MUI?? apa salahnya tidak memilih karena semua pilihan itu memang tidak tepat? Hmm..
Yang paling menggelikan, beberapa waktu lalu kita mendengar elite politik saling bersaut-sautan, dalam sebuah koran nasional hari sabtu lalu dua partai besar sama2 menempelkan iklan politik yang masing2 menyekal dan menyoroti partai satu sama lain.












